Mikir-mikir
Comment 1

Cara Mengenali Propaganda Negatif

Media Control

Sekarang ini kita hidup dihujani informasi kiri kanan atas bawah sampai megap-megap. Dari pilihan yang lebih tradisional seperti tv dan koran pun sudah melimpah, apalagi sekarang ketambahan internet, blogs, media sosial dan lain-lain. Sehingga sebagai manusia dengan energi dan kapasitas otak yang terbatas, kita mulai mempersingkat proses kita memilih, mengakses dan mencerna sebuah berita.

Positifnya, berita cepat menyebar. Negatifnya? Berita cepat menyebar juga. Berita anak hilang, gempa bumi, Indonesia menang di Olimpiade tentu saja bagus kalau cepat menyebar, tapi kalau twit fitnah “Si A nyolong ayam” pake foto orangnya di-share secepat kilat juga enggak bener kan. Padahal sekarang ini media profesional dan media asal-asalan udah enggak bisa dibedain lagi, sehingga kita kayaknya ribut terus dikasih judul-judul bombastis padahal isinya artikel beda ama judul 😑

Melihat kebiasaan nge-share atau menelan bulat-bulat berita enggak jelas, terus terang aku jadi prihatin juga sehingga pengen mengajak kalian untuk aware akan beberapa tanda-tanda berita ‘buatan’ atau issue yang sengaja disebar untuk mempengaruhi masyarakat.

1. Media penyebaran

Penyebaran propaganda biasanya melalui berbagai macam media, seperti tv, koran, spanduk, selebaran, blog, social media sampai ‘word-of-mouth’.

Penyebaran word-of-mouth ini ada dua macam, lewat rumor yang susah diselidiki asal mulanya, sampai orasi di acara-acara besar atau ngisi ceramah. Penyebaran rumor ini yang sangat difasilitasi oleh media komunikasi modern sekarang ini. Tinggal twit “Si A nyolong ayam. Tolong sebarkan” langsung deh di retwit oleh orang-orang yang tidak tahu asal mulanya dan si A mendadak digebugin warga aja deh.

Jadi jangan sembarangan nge-share berita yang belom pasti kebenarannya. There’s a lot of power in you clicking ‘share’.

2. Cara penyampaian

Untuk lebih efektif mencapai target audiencenya, propaganda yang sama akan dibungkus dengan cara yang berbeda. Yang diutamakan disini adalah bagaimana cara memancing emosi pembaca sehingga berpihak dan bergerak untuk si empunya propaganda ini.

Karena beda generasi punya ketakutan dan kepedulian yang berbeda, maka pesan yang dibawa juga beda. Kalau si propaganda berusaha meyakinkan bahwa X itu jelek, maka pesan yang dibawa akan menakutkan, menyedihkan, atau menimbulkan perasaan jelek. Sementara kalau dia berusaha meyakinkan X itu bagus, maka gambarnya bakal penuh warna, pesannya mengharukan, dan sebagainya.

Intinya, semakin berduit si empunya propaganda ini maka media yang dipakai akan makin beragam. Jadi kalau anda melihat ada satu issue yang mendadak di blow-up di segala macam media secara serentak, perlu berhati-hati membaca isi beritanya dan jangan ditelan bulat-bulat sebelum menarik kesimpulan sendiri. Apalagi apabila hanya satu sisi yang selalu muncul sehingga pemberitaanya miring.

3. Beberapa taktik penyebaran propaganda

Kita coba pakai contoh kasus aja ya. R.A Kartini memperjuangkan pendidikan di masa perempuan itu ditempatkan di dapur. R.A Kartini memulai pergerakan sekolah untuk perempuan dan ini tidak disukai para pria yang berpikiran “Nggak ada gunanya perempuan itu pinter”. Jadi apa yang bisa mereka lakukan dalam mencegah usaha R.A Kartini dalam memperjuangkan pendidikan untuk perempuan?

Menyebarkan ketakutan. Taktik ini menakut-nakuti orang sehingga mereka mendukung si empunya propaganda. Misal: “Wanita berpendidikan akan membantah suami di rumah.”

Bandwagon/ikutan trend. Taktik ini menyarankan pembaca untuk ikut beraksi karena orang lain melakukan itu. Misal: “Sejak awal mula, perempuan itu melayani suami dan keluarga di rumah. Jangan biarkan anak anda keluar dari tradisi!”

Permainan kata. Taktik ini menggunakan kata-kata dengan konotasi yang kuat secara negatif atau positif. Misal: “Lelaki sejati tidak akan membiarkan perempuan sekolah”

Transfer. Taktik ini menghubungkan hal yang nggak nyambung, antara propaganda nya dan sesuatu yang biasanya dikaitkan positif atau negatif. Misal: “Pria berjuang menghidupi keluarganya karena dia peduli. Apabila anda peduli pada keluarga anda, jangan biarkan anak perempuan anda sekolah”

Testimonial gak jelas. Taktik ini menggunakan orang yang tidak punya kualifikasi atau kredibilitas untuk mendukung sebuah produk atau opini. Misal: “Saya dengar dari orang dalam, yang namanya rahasia, bahwa Kartini itu sebenarnya menggunakan sekolah sebagai kedok untuk bertemu lelaki yang bukan pasangannya”. (disclaimer: saya tidak bermaksud memfitnah sama sekali, hanya memakai contoh propaganda lewat fitnah)

Kurang lebih itulah sedikit taktik penyebaran propaganda negatif yang kepikiran. Mungkin anda bertanya, ngapain orang sampai begitu? Itulah yang perlu anda pikirkan sebelum anda klik ‘Share’

Menyebarkan propaganda lewat media itu berarti ada duit masuk ke media tersebut untuk memuat atau meliput beritanya. Judul bombastis akan menaikkan oplah koran, pemirsa tv dan jumlah traffic ke blog maupun social media follower. Bikin spanduk berarti ada duit ke pembuat spanduk, duit masuk ke pemasang spanduk.

Yuk kita mulai memilah, membaca dan mencerna berita secara benar dan gunakan tombol ‘Share’ secara hati-hati. Hanya karena sesuatu ada di media, belum tentu itu benar terjadi dan sebaliknya hanya karena sesuatu tidak masuk media, belum tentu itu tidak terjadi.

1 Comment

  1. Kalo kata temen-temen di @internetsehat Wise While Online, Think Before Posting

    Arus informasi sekarang sudah seperti semprotan air bah, yg kalo tdk pandai berenang akan terbawa hanyut, juga yang tidak difikirkan oleh si penyebar issue dan fitnah, sifat data di internet itu lebih kekal dan ada viral arsipnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s