All posts filed under: Mikir-mikir

Menelaah arti hidup (alias sok bijak)

Main Game Itu Penting

Salah satu ritual yang teramat penting, tidak boleh ketinggalan sehari pun, adalah main game. Untuk yang follow account sosmed ku, pernah liat kan screenshot game yang cukup sering aku posting? Obsesi terbaru dalam nge-game kali ini adalah Final Fantasy XIV. Bagian dari serial Final Fantasy, FFXIV ini adalah game kedua massively multiplayer online role-playing game (MMORPG). Menurut gamerevolution.com, per Juli 2015, FFXIV punya 5 juta pelanggan aktif di penjuru dunia, dengan servers di Amerika, Eropa dan Jepang. Tiap kali main rpg, biasanya selalu main black mage alias penyihir. Sukanya lempar-lempar api dari jauh hahaha, gak mau deket-deket sama monsternya.

Gimana Cara Putri Raja Memilih Suami?

Kira-kira itulah pertanyaan yang cukup sering masuk ke inbox-ku. Tadinya aku sempet heran juga ngapain pada pengen tahu tentang itu? Ternyata diantara followers cukup banyak yang sedang dalam tahap mencari jodoh atau dikejar-kejar orangtua untuk segera menikah, ada juga yang sekedar kepo 😪. Tapi setelah dipikir-pikir, namanya nyari jodoh kurang lebih mirip-mirip lah namanya perempuan Pas dulu masih muda (ciee), aku selalu beranggapan bahwa “Putri raja itu tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan”, berteman tidak memandang siapa dari mana. Tapi setelah dewasa, mulai bisa menerima bahwa mau digimanain juga memang keluargaku bukan keluarga biasa. Adalah tanggung jawabku memilih pasangan yang bisa turut support Kraton.

Cara Mengenali Propaganda Negatif

Sekarang ini kita hidup dihujani informasi kiri kanan atas bawah sampai megap-megap. Dari pilihan yang lebih tradisional seperti tv dan koran pun sudah melimpah, apalagi sekarang ketambahan internet, blogs, media sosial dan lain-lain. Sehingga sebagai manusia dengan energi dan kapasitas otak yang terbatas, kita mulai mempersingkat proses kita memilih, mengakses dan mencerna sebuah berita. Positifnya, berita cepat menyebar. Negatifnya? Berita cepat menyebar juga. Berita anak hilang, gempa bumi, Indonesia menang di Olimpiade tentu saja bagus kalau cepat menyebar, tapi kalau twit fitnah “Si A nyolong ayam” pake foto orangnya di-share secepat kilat juga enggak bener kan. Padahal sekarang ini media profesional dan media asal-asalan udah enggak bisa dibedain lagi, sehingga kita kayaknya ribut terus dikasih judul-judul bombastis padahal isinya artikel beda ama judul 😑 Melihat kebiasaan nge-share atau menelan bulat-bulat berita enggak jelas, terus terang aku jadi prihatin juga sehingga pengen mengajak kalian untuk aware akan beberapa tanda-tanda berita ‘buatan’ atau issue yang sengaja disebar untuk mempengaruhi masyarakat.

Sebenernya Apa Yang Dicari Sih?

Ini sesi jujur2an aja yah 😁 Bukan post marah-marah lho ini, dibaca dengan nada kalem aja yah. Karena aku bener-bener pengen tahu aja. Sebenernya aku lebih enjoy ketika orang nggak tau aku anaknya Bapak, karena aku risih diperlakukan spesial. Enggak ngerti deh orang-orang yang selalu membanggakan diri sebagai ‘keluarga Kraton’, maunya dikasih special treatment melulu. Tapi mau gimana, sejak Jeng Bendoro menikah, aku jadi dikenal sebagai ‘kakak yang dilangkahi’.

“Dia kan Anak Sultan”

Dari kecil selalu frustasi dengan status ‘Anak Sultan’. Kalau punya prestasi, orang selalu ngomong ‘Wajar lah, dia kan anaknya Sultan. Pasti dimenangin’. Sementara kalo gagal, dikatain “Padahal dia anaknya Sultan lhoo… Malu-maluin waris”. Orang juga bangga dan sering pamer kalau anaknya bisa ngalahin seorang ‘Anak Sultan’ dalam satu hal. Padahal ya mana mungkin juga kita jagoan dalam semua hal.